Contact Form

 

Kepada Kita Semua Dan Kepada Mereka yang Akan Dipilih

Kemiskinan Mereka dan Peran Kita

Oleh: Taufik B Nugraha
Staff Kebijakan Publik KAMMI Komisariat Batam,

Kemiskinan memang sudah menjadi masalah klasik. Tidak hanya di negeri ini tapi juga di seluruh belahan dunia. Di manapun kemiskinan itu selalu ada dengan berbagai wujudnya. Memang kemiskinan bukanlah sebuah aib, bahkan banyak orang miskin yang ternyata lebih mulia dibandingkan orang-orang kaya hanya saja menjadi miskin memang bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

Mari kita persempit pembahasan kemiskinan ini dalam ruang lingkup negara kita. Di Indonesia saya kurang tahu berapa jumlahnya hanya saja saya yakin jumlahnya pasti jauh melebihi jumlah orang kaya yang ada di negeri ini. Tragedi Pasuruan yang mengakibatkan puluhan jiwa melayang hanya demi uang Rp30.000 menjadi bukti suramnya keadaan masyarakat kita. Belum lagi jumlah anak putus sekolah karena tidak mampu membayar biaya sekolah, banyaknya jumlah pengangguran serta rendahnya tingkat kesehatan masyarakat juga menjadi indikator lainnya.

Banyaknya jumlah warga miskin ini bisa kita jadikan sebagai indikator bahwa pemimpin-pemimpin kita sampai saat ini masih belum mampu untuk mensejahterakan rakyatnya. Janji-janji serta program untuk mensejahterakan rakyat semasa kampanye terlupakan begitu saja ketika sudah terpilih sebagai wakil-wakil rakyat. Alih-alih memihak kepada masyarakat mereka lebih senang berpihak pada pengusaha.

Di Sekitar Aksi Sosial KAMMI
Beberapa kali KAMMI Komisariat Batam mengadakan aksi sosial. Keluhan yang disampaikan warga ketika diadakan diskusi dengan mereka selalu sama ”kurangnya perhatian pemerintah kepada mereka”. Seperti yang terjadi saat KAMMI mengadakan aksi sosial di Kampung Belian, kondisi mereka sangat memprihatinkan. Kesulitan mendapatkan layanan kesehatan menjadi salah satu keluhan mereka.

Begitu juga dengan aksi sosial yang diadakan di Kampung Belian Tua, Sabtu (20/9) lalu, ketika diadakan diskusi seputar permasalahan mereka lagi-lagi jawabannya sama ”kurangnya perhatian pemerintah terhadap mereka”. Keluhan seputar masalah penerangan listrik dari PLN yang tak kunjung masuk ke kampung mereka, infrastruktur jalan yang sampai saat ini masih belum mendapat perhatian, serta masalah anak yang tidak mampu meneruskan sekolah karena tidak mampu membayar uang bangku yang diminta oleh sekolah.

Lebih ironis lagi karena kedua tempat yang saya sebutkan di atas terletak di kecamatan Batam Kota yang mana kantor Pemerintah Kota (Pemko) dan gedung Dewan (DPRD) terlihat dengan jelas dari kedua kampung ini. Tapi memang itu keadaannya ketimbang melirik masyarakat kelas bawah seperti ini mereka tampaknya lebih senang bergaul dan melayani para pengusaha yang bisa mendatangkan keuntungan untuk mereka secara pribadi. Hal ini ibarat pepatah “kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak”.

Tanggung Jawab Siapa?
Saya pikir fenomena kemiskinan yang terjadi sekarang ini merupakan tanggung jawab kita bersama, tapi tentunya peran terbesar ada pada pemerintah. Karena merekalah yang punya kewenangan dan amanah untuk mengatur daerah ini.

Segenap elemen masyarakat, baik itu Organisasi Masyarakat, LSM, partai-partai ataupun mahasiswa tentunya juga turut memiliki tanggung jawab terhadap semua permasalahan ini. Mereka (baca: Ormas atau LSM) jangan hanya sibuk mengajukan proposal untuk mendapatkan dana yang digunakan untuk kepentingan pribadi, atau partai-partai yang sibuk mengadakan bakti sosial dan pembagian sembako murah kepada rakyat hanya ketika waktu pemilu menjelang dan mau mendengar aspirasi masyarakat hanya untuk menarik simpati dan menggalang dukungan.

Begitupun dengan para pemuda khususnya mahasiswa, mereka tidak boleh hanya bersenang–senang dan berleha–leha tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Hidup damai di menara gading tidak mau tahu kesulitan apa yang sedang dihadapi oleh rakyat. Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi sudah jelas disebutkan bahwa salah satu kewajiban mahasiswa adalah pengabdian kepada masyarakat jadi tidak ada alasan bagi seorang mahasiswa untuk hidup apatis dan hanya memikirkan dirinya sendiri.

Hilangkan Budaya Mengemis
Apa yang menimpa negara ini menurut saya karena banyaknya orang yang bermental pengemis. Dan lebih ironis ketika pemerintah alih – alih memberantas mental seperti ini malah menumbuhsuburkan hal tersebut, hal ini terlihat dari penyaluran program BLT yang didakan beberapa waktu lalu sebagai kompensasi kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal ini jelas upaya membuat masyarakat bermental pengemis.
Apa yang dilakukan oleh banyak LSM dan Ormas juga bisa menjadi indikatornya, pengajuan – pengajuan proposal tanpa tindakan nyata dan hanya untuk kepentingan pribadi juga menjadi sesuatu yang amat memprihatinkan dan harus segera diberantas. Saya yakin banyak sekali LSM maupun Ormas yang ada di Kota Batam ini namun yang membuat saya heran kenapa aksi nyatanya tidak terlihat sama sekali untuk membantu masyarakat.

Dan yang lebih parah lagi, hal ini mulai menjangkit kepada para mahasiswa. Seperti yang beberapa waktu lalu terjadi, saya sempat menanyakan hal ini kepada salah seorang teman tentang penggalangan dana yang dilakukan di beberapa simpang beberapa waktu lalu. Dia berdalih kalau hal itu wajar saja dan halal, lagipula itu merupakan cara yang paling efektif. Saya tidak menyalahkan pendapat teman saya itu, hanya saja bukankah dengan melakukan hal seperti itu berarti kita tak ubahnya seperti mereka yang seharian mencari belas kasihan di pinggir jalan, dan memang cara itu yang paling efektif tapi sekaligus juga paling tidak kreatif.

Banyak cara lain yang bisa digunakan untuk hal seperti itu. Bagaimana mungkin kita bisa melakukan kebaikan kalau cara yang kita tempuh untuk itu adalah cara – cara yang tidak baik.

Tuntaskan Perubahan
Kadangkala saya memimpikan saat dimana masyarakat ini dipimpin oleh seorang pemimpin seperti Umar Bin Khattab, seorang pemimpin yang mementingkan kesejahteraan rakyatnya melebihi dirinya. Hal ini terbukti dari sumpahnya yang sampai saat ini masih diabadikan, ”Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenyangan, aku ingin orang terakhir yang menikmatinya,”

Atau Umar bin Abdul Azis yang mematikan lampu minyaknya ketika menerima kedatangan anaknya. Ia tidak mau menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadinya, sebuah sikap kesederhanaan yang luar biasa. Sikap yang sangat jarang ditemui pada diri pemimpin kita saat ini. Banyak pejabat yang menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi.

Hendaknya dua pemimpin ini dapat menjadi contoh oleh para pemimpin saat ini, hingga akhirnya mereka bisa merasakan penderitaan rakyat. Bagaimana mungkin mereka bisa memperjuangkan rakyat kalau tidak merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya.
Saya rasa pemilu 2009 nanti merupakan momentum yang tepat untuk menuntaskan perubahan. Pilihan kita menentukan nasib negara ini 5 tahun ke depan. Saya yakin masyarakat saat ini sudah cerdas, mereka tidak akan terbuai oleh iming – iming keuntungan sesaat yang kemudian menimbulkan penderitaan yang berkepanjangan.

Saatnya memilih wakil dan pemimpin negeri yang benar - benar berpihak kepada masyarakat, bukan mereka yang hanya dekat ketika masa kampanye tapi kemudian menjauh ketika sudah berkuasa. Kita membutuhkan pemimpin - pemimpin yang mempunyai agenda – agenda progresif yang tentunya juga mempunyai kapabilitas untuk merealisasikan agendanya agar Indonesia menjadi lebih baik.

Saatnya mencari pemimpin yang memandang jabatan yang diembannya sebagai sebuah amanah yang akan ada pertanggungjawabannya di akhirat kelak ketimbang sebuah maisyah (sekedar pekerjaan). Dekat dengan rakyat, peduli dengan permasalahan yang dihadapi masyarakat, berani membela kepentingan rakyat daripada kepentingan pengusaha. Hingga akhirnya, benar – benar terwujud kecintaan rakyat kepada para pemimpinnya karena pemimpinnya pun mencintai rakyatnya.

Dan kemudian persoalan kemiskinan akan mulai teratasi karena terjadi sinergi yang baik antara pemimpin dan rakyat. Hingga tidak ada lagi keluhan seperti yang terjadi pada masyarakat kampung belian dan kampung belian tua. Semoga.

Total comment

Author

KAMMI_Batam

0   komentar

Cancel Reply